Unai Emery, Pelatih Spesialis Liga Malam Jum’at

Siang itu, jalan-jalan di kota Villarreal, Spanyol, berubah warna. Warna kuning, ciri khas klub sepak bola kebanggaan mereka, menjamur di jalan. Ribuan warga dengan atribut kuning meninggalkan kegiatan mereka, lalu berkumpul di jalanan.

Mereka menyambut kedatangan bus dua tingkat berisi para pahlawan kota. Dari kejauhan, datang bus bertuliskan ”Som Campions”, yang berarti  ’kami juara’, dan ”Es Nues Tro Momento”, yang berarti ’ini adalah momen kami’.

Juga tampak jelas trofi Liga Europa yang dipajang di bagian depan bus. Para penggemar menggila ketika bus yang membawa tim Villarreal itu lewat. Mereka bersorak dan bernyanyi tanpa henti.

Para pemain andalan, seperti Pau Torres dan Gerard Moreno, yang disambut bagaikan raja, membalas dengan lambaian tangan dari bagian atas bus. Begitulah riuh pesta kota kecil berpenduduk sekitar 50.000 jiwa ini pada Jumat (28/5/2021).

Menurut berita dari situs taruhan bola online, pesta penyambutan itu digelar sehari setelah Villarreal menjuarai Liga Europa, mengalahkan tim raksasa, Manchester United, di final dalam drama adu penalti, 11-10.

Warga begitu bahagia karena ini merupakan gelar Eropa pertama klub setelah penantian nyaris seabad. Banyak di antara penggemar yang menggelengkan kepalanya. Mungkin, mereka masih merasa seperti dalam mimpi, mengingat tim yang ditumbangkan adalah MU.

Perbedaan keduanya sangat timpang. Tim lawan bahkan punya stadion yang punya kapasitas penonton 74.140 kursi, lebih banyak dari penduduk kota Villarreal. Apalagi dari sisi prestasi. Villarreal baru saja menjalani final kompetisi Eropa pertama saat MU sudah merajai Eropa sejak 54 tahun lalu.

Unai Emery

Namun, di bawah asuhan pelatih kawakan, Unai Emery, ketimpangan kualitas dan sejarah itu berbalik. Kisah David versus Goliath kembali terulang. ”Si Lemah”, Villarreal, justru bisa berpesta di atas tangisan skuad MU.

Gelandang Villarreal, Etienne Capoue, bercerita, pengalaman final ini sangatlah sensasional. Mereka tidak punya ketakutan sama sekali menghadapi skuad mewah ”Setan Merah”. Tubuh mereka justru dipenuhi energi. Ketika ditanya sebabnya, dia menjawab semua karena Emery.

”Dia adalah pelatih hebat. Semua hasil yang terjadi hari ini karenanya. Dia kembali menujukkan kehebatan dalam melatih dengan kemenangan ini. Tidak ada lagi yang perlu dibuktikan tentang kehebatannya,” kata Capoue.

Rasa hormat dan percaya Capoue dan rekan-rekan itu terlihat jelas ketika jeda menuju babak tambahan serta adu penalti. Mereka begitu khusyuk menyimak instruksi Emery, bagaikan seorang warga Inggris yang mendengar titah Ratu Elizabeth.

Banyak yang menganggap pahlawan kemenangan ini adalah kiper Villarreal, Geronimo Rulli. Dia adalah penendang sekaligus penyelamat dalam adu penalti. Namun, kenyataannya, Rulli tidak akan ada di lapangan tanpa keputusan Emery.

Sang pelatih berjudi memilih kiper kedua tim itu dibandingkan penjaga gawang inti, Sergio Asenjo. Kepercayaan itulah yang dibayar Rulli. Keberanian Emery itu yang tidak dimiliki Manajer MU Ole Gunnar Solskjar, yang tetap memainkan David De Gea dan mencadangkan kiper kedua, Dean Henderson.

Kehebatan itu juga ditunjukkan dalam strategi. Menyadari kalah kualitas, Emery bermain lebih pragmatis. Strategi ini mungkin kurang menghibur, tetapi dia memastikan trofi itu jatuh ke tangan mereka malam itu.

Malam itu, Emery menjadi bintang paling bersinar. Saat Villarreal meraih gelar pertama Liga Europa, dia meraih trofi itu untuk keempat kalinya. Dengan tambahan itu, Emery menjadi pelatih peraih gelar Liga Europa ataupun Piala UEFA terbanyak, melewati rekor …